Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts
Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts

2018-01-21

Sedikit penjelasan tentang pembagian wahyu


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم



Ibnu Qayyim menyebutkan tingkatkan-tingkatan wahyu, yaitu:

  1. Mimpi yang hakiki. Ini merupakan permulaan wahyu yang turun kepada Nabi Muhammadﷺ.

  2. Apa yang di susupkan ke dalam jiwa dan hati beliau, tanpa dilihatnya, sebagaimana yang dikatakan Muhammadﷺ, "sesungguhnya Ruhul-Qudus menghembuskan kedalam diriku, bahwa suatu jiwa sama sekali tidak akan mati hingga disempurnakan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah, baguskan dalam meminta, dan janganlah kalian menganggap lamban datangnya rezeki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah, karena apa yang ada disisi Allah tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan mentaati-Nya.

  3. Malaikat muncul dihadapan Rasulullahﷺ dalam rupa seorang laki-laki, lalu berbicara dengan beliau hingga beliau bisa menangkap secara langsung apa yang dibicarakannya. Dalam tingkatan ini kadang-kadang para sahabat juga dapat melihatnya.

  4. Wahyu itu datang menyerupai gemerincing lonceng. Ini merupakan wahyu yang paling berat dan malaikat tidak terlihat oleh pandangan Nabi Muhammadﷺ hingga dahi beliau berkerut mengeluarkan keringat sekalipun pada waktu yang sangat dingin dan hingga hewan tunggangan beliau menderum ke tanah jika beliau sedang menaikinya. Wahyu seperti ini pernah datang tatkala paha beliau berada di atas Zaid bin Tsabit, sehingga Zaid merasa keberatan dan hampir saja tidak kuat menyangganya.

  5. Nabi Muhammadﷺ bisa melihat malaikat dalam rupa aslinya, lalu menyampaikan wahyu seperti yang dikehendaki Allah kepada beliau.
    Wahyu seperti ini pernah datang dua kali, sebagaimana yang disebutkan Allah di dalam surat An-Najm.

  6. Wahyu yang disampaikan Allah kepada beliau, yaitu di atas lapisan-lapisan langit pada  malam Mi'raj yang berisi kewajiban shalat dan lain-lainnya.

  7. Allah berfirman secara langsung dengan nabi Muhammadﷺ tanpa menggunakan perantara, sebagaimana Allah berfirman kepada Musa bin Imran.
    Wahyu semacam ini pasti berlaku bagi Musa berdasarkan nash Al-Qur'an dan menurut penuturan beliau dalam hadits tentang Isra'.

Sebagian pakar menambahi dengan tingkatan wahyu yang kedelapan, yaitu Allah berfirman langsung dihadapan beliau tanpa ada tabir. Ini termasuk masalah yang di pertentangkan orang-orang shalaf maupun khalaf.

Begitulah uraian singkat tentang tingkatan-tingkatan wahyu, dari yang pertama hingga kedelapan. Namun yang pasti, tingkatan yang terakhir ini merupakan pendapat yang tidak kuat.


(Zadul-Ma'ad, 1/18).

(Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri hal.67-68).

Jibril turun membawa wahyu untuk kedua kalinya


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Artikel saya pada kali ini adalah mengenai turunnya Malaikat jibril untuk yang kedua kalinya kepada Nabi Muhammadﷺ yang saya kutip dari buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, yang saya sajikan untuk pebaca di blog saya ini.

Ibnu Hajar menuturkan, selama wahyu terputus untuk beberapa hari lamanya, beliau ketakutan dan berduka, namun kedukaannya segera sirna dan kembali seperti sebelumnya tatkala bayang-bayang kebingungan mulai surut, tanda-tanda kebenaran mulai membias, dan beliau menyadari secara yakin bahwa kini beliau benar-benar menjadi seorang nabi Allah yang Mahabesar dan Mahatinggi, bahwa yang mendatangi beliau adalah duta pembawa wahyu yang menyampaikan pengabaran langit, kegelisahan dan penantiannya terhadap kedatangan wahyu merupakan sebab keteguhan hatinya jika wahyu itu datang lagi, maka Jibril datang lagi untuk kedua kalinya.



Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bahwa dia pernah mendengar dari Rasulullahﷺ menuturkan masa turunnya wahyu. Beliau bersabda, 
"Tatkala aku sedang berjalan, tiba-tiba ku dengar sebuah suara yang berasal dari langit. Aku mendongakkan kepala kearah langit. Ternyata di sana ada malaikat yang mendatangi ku di gua Hira," sedang duduk di sebuah kursi yang menggantung di antara langit dan bumi. Aku mendekatinya hingga tiba-tiba aku terjerembab ke atas tanah. Kemudian aku menemui keluargaku, dan ku katakan, "Selimutilah aku, Selimutilah aku." 
Lalu Allah menurunkan surat Al Muddatstsir: 1-5,


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

(1). يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ
Hai orang yang berkemul (berselimut),

(2). قُمْ فَأَنْذِرْ
bangunlah, lalu berilah peringatan!

(3). وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
dan Tuhanmu agungkanlah,

(4). وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
dan pakaianmu bersihkanlah,

(5). وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah,


Setelah itu wahyu datang secara berturut-turut.

(Shahihul-Bukhari, Kitabut-Taf'sir, bab-Rujza Fahjar, 2/733)
(Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri hal. 66-67)

Demikian rahasia kebangkitan Risalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diawali dengan kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dilanjutkan dengan turunnya wahyu yang pertama ketika akhir usia beliau yang ke 39, kemudian wahyu yang kedua turun ketika usia beliau tepat mencapai 40 tahun, dan terus wahyu Allah subhanahu wata’ala turun kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau berjuang selama 13 tahun di Makkah, kemudian hijrah ke Madinah Al Munawwarah selama 10 tahun, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalakan Madinah dan kaum muslimin untuk menghadap Allah subhanahu wata’ala.



Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dan meninggalkan dunia namun rahasia keluhuran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sirna dari zaman ke zaman dan hingga malam hari ini kita masih berada dalam naungan cahaya kebangkitan risalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.




Maka, malam 17 Ramadhan adalah malam pertama diturunkannya ayat-ayat Al qur’an dan di malam itu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa untuk kemenangan Ahlu Badr Al Kubra yang terjadi pada tahun ke 2 H, kurang lebih 15 tahun setelah wahyu pertama (QS. Al ‘Alaq : 1-5 ) turun kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.




Semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan kita dengan Rahasia kemuliaan bulan Ramadhan. Maka perindahlah siang-siang hari kita di bulan Ramadhan ini dengan puasa dan ibadah lainnya, serta hiasilah dan sempurnakan malam-malamnya dengan memperbanyak shalat tarawih dan membaca Al qur’an.




Cukuplah bagi kita untuk melewati kehidupan kita ini dengan permainan, karena hakikat kehidupan dunia adalah permainan.
Firman Allah,


وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”.

(QS. Al An’aam : 32)

Demikanlah sedikit kisah mengenai turunnya Malaikat JIbril untuk kedua kalinya kepada Rasullulahﷺ yang telah dikisahkan oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam bukunya yang berjudul Sirah Nabawiyah.

Semoga apa yang sudah saya postingkan ini dapat menjadi salah satu penambah wawasan pengetahuan kita dalam memahami Islam secara keseluruhan terutama dapat menambahkan rasa cinta kita kepada Rasullulahﷺ.

2018-01-19

Terputusnya wahyu Allah ﷻ kepada Muhammadﷺ


Tentang jangka waktu terputusnya wahyu, Ibnu Sa'd meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang pada intinya menjelaskan bahwa jangka waktunya adalah beberapa hari. Inilah pendapat kuat dan bahkan yang bisa dipastikan, setelah mengadakan penyelidikan dari segala sisi.

Pendapat yang banyak menyebar, bahwa masa terputusnya wahyu itu berlangsung selama tiga tahun atau dua setengah tahun, merupakan pendapat yang tidak benar.
Namun bukan disini tempatnya untuk menyanggah pendapat ini secara rinci.

Pada masa terputusnya wahyu itu, Muhammadﷺ hanya diam dalam keadaan termenung sedih. Rasa kaget dan bingung melingkupi diri beliau.

Al-Bukhari meriwayatkan di dalam Kitabut-Ta'bir, yang isinya sebagai berikut:
"Wahyu terputus selang beberapa waktu, hingga nabi Muhammadﷺ dirundung kedukaan seperti halnya kita yang sedang berduka".


Beberapa kali beliau sudah mencapai puncak bukit agar mati saja di sana. Tetapi setiap kali beliau sudah mencapai puncaknya dan terbesit keinginan untuk terjun dari sana, muncul bayangkan Jibril yang berkata kepada beliau: "Wahai Muhammad, engkau adalah benar-benar Rasul Allah." Dengan begitu hati dan jiwa beliau menjadi tenang kembali. 



Setelah itu beliau pulang kembali. Jika kevakuman wahyu itu berselang lagi, maka beliau melakukan hal yang sama.

Namun selagi sudah tiba dipuncak bukit, tiba-tiba muncul bayangan Jibril dan mengatakan hal yang sama.


(Shahih Al-Bukhari, Kitabut-Ta'bir, bab Awwalu Ma Budi'a Bihi Rasulullahﷺ Minal-Wahyi Ar-Ru'ya Ash-Shalihah, 2/340).



(Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri).



Dalam kitab sejarah karangan Ahmad  bin Hambal terdapat riwa­yat  dari Sya'bi yang mengatakan, bahwa masa tidak turunnya wahyu adalah 3 tahun, pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Ishaq. Sedangkan menurut Baihaqi adalah 6 bulan, dan Nabi mendapatkan wahyu lewat mimpi pada bulan kelahirannya yaitu Rabi'ul Awal ketika umur beliau 40 tahun, sedangkan turunnya wahyu dalam keadaan sadar pada bulan Ramadhan.



Bukanlah yang dimaksud dengan terputusnya wahyu selama tiga tahun berarti tidak turunnya malaikat Jibril kepada Muhammad setelah turunnya ayat "Iqra bismirabbika..." sampai turunnya ayat, "Ya Ayyuhal Muddatstsir," melainkan hanya diperlambat turunnya Al Qur'an kepada beliau.



Asy-Sya'bi berkata, 
"Turunnya kenabian kepada Muhammad, ketika beliau berusia 40 tahun yang ditemani oleh malaikat Israfil selama 3 tahun yang mengajari beliau, dan pada saat itu belum turun Al Qur'an kepadanya. Setelah tiga tahun selanjutnya Nabi ditemani oleh Malaikat dan turunlah Al Qur'an selama 20 tahun kepadanya".

Demikianlah sedikit kisah tentang terputusnya wahyu Allah ﷻ kepada Muhammadﷺ semoga artikel saya ini bisa menambah sedikit wawasan kepada para pengunjung di blog ini.

2018-01-18

Gua Hira di Jabal Nur



Postingan saya pada kali ini adalah mengenai tempat dimana Rasulullahﷺ mengasingkan dirinya dari kehidupan masyarakat di Makkah, dan di tempat ini pula saat pertama kalinya pertemuan antara Rasulullahﷺ dan Malaikat Jibril yang diutus Allah untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullahﷺ

Rasulullahﷺ sebelum itu telah membentangkan jarak pemikiran antara diri beliau dan kaumnya. Pada saat usia Rasulullahﷺ hampir mencapai empat puluh tahun, sesuatu yang paling disukai oleh diri beliau adalah mengasingkan diri. Dengan membawa bekal roti dari gandum dan juga air secukupnya, beliau pun pergi ke gua Hira yang terletak di atas Jabal Nur, yang jarak tempuhnya kira-kira dua mil dari Makkah. 

Suatu gua yang tidak terlalu besar yang panjangnya 4 Hasta, dan lebarnya 3/4 hingga 1 Hasta, kadang-kadang keluarga beliau ada pula yang ikut menyertai beliau ke atas Jabal Nur, yaitu gua Hira. Selama bulan Ramadhan beliau berada di dalam gua Hira di Jabal Nur menghabiskan waktunya untuk beribadah, memikirkan keagungan alam di sekitarnya dan kekuatan tak terhingga di balik alam. Rasulullahﷺ tidak pernah merasa puas di saat melihat keyakinan kaumnya yang penuh dengan kemusyrikan dan juga segala bentuk persepsi mereka yang tidak pernah lepas dari tahayul.

Sementara Itu di hadapan beliau juga tidak ada jalan yang jelas dan mempunyai batasan-batasan tertentu, yang bisa menghantarkan kepada keridhaan dan kepuasan di dalam hati beliau.

Pilihan Rasulullahﷺ untuk mengasingkan diri ini adalah termasuk satu sisi dari ketentuan Allah atas diri beliau. Selagi langkah persiapan untuk menerima utusan besar sedang ditunggunya.

Ruh manusia maupun yang realitas kehidupannya disusupi suatu pengaruh dan dibawa ke arah lain, maka ruh itu harus dibuat kosong dan mengasingkan diri untuk beberapa saat, dipisahkan dari berbagai semua kesibukan duniawi dan juga gejolak kehidupan serta kebisingan manusia yang membuatnya sibuk pada urusan-urusan kehidupan.

Allah mengatur dan mempersiapkan kehidupan Rasulullahﷺ untuk mengemban amanat yang benar, mengubah wajah dunia serta meluruskan garis sejarah, dan mengatur pengasingan ini selama tiga tahun bagi Rasulullahﷺ sebelum membebani diri beliau dengan risalah.

Beliau pergi ke gua Hira di atas Jabal Nur untuk mengasingkan dirinya selama jangka waktu sebulan, dengan disertai ruh yang suci sambil mengamati kegaiban yang tersembunyi dibalik alam nyata, hingga tiba saatnya berhubungan dengan kegaiban itu, tatkala Allah memperkenalkannya.

(Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri)

Jibril membawa wahyu kepada Muhammadﷺ

Usia Muhammadﷺ genap empat puluh tahun, suatu awal kematangan dan ada yang berpendapat bahwa pada usia inilah para Rasul diangkat menjadi Rasul. Mulai tampak tanda-tanda Nubuwah yang menyembul dari balik kehidupan pada diri Muhammadﷺ.

Di antara tanda-tanda itu adalah mimpi yang hakiki. Selama enam bulan mimpi yang beliau alami itu hanya menyerupai fajar subuh yang menyingsing. Mimpi ini termasuk salah satu bagian dari empat puluh enam bagian dari Nubuwah.

Akhirnya pada bulan Ramadhan pada tahun ketiga dari masa pengasingan di gua Hira, Allah berkehendak untuk melimpahkan rahmat-Nya kepada penghuni bumi, memuliakan Muhammadﷺ dengan Nubuwah dan menurunkan Jibril kepada Muhammadﷺ sambil membawa ayat-ayat Al Qur'an.

Ibnu Hajar berkata,
"Al-Baihaqi mengisahkan bahwa jangka waktu datangnya mimpi itu selama enam bulan. Oleh karena itu permulaan Nubuwah yang ditandai dengan mimpi terjadi pada bulan kelahiran beliau yaitu Rabi'ul Awwal, setelah usia beliau genap empat puluh tahun, sedangkan permulaan wahyu untuk bangkit terjadi pada bulan Ramadhan".
 (lihat Fathul Bari 1/27).

Dari Abu Qutadah, bahwa Rasulullahﷺ pernah di tanya tentang puasa hari Senin, maka beliau menjawab, 
"Pada hari ini aku dilahirkan dan pada hari ini pula turun Wahyu (yang pertama) kepadaku". 

Dalam lafaz lain disebutkan, 

"Itu lah hari aku dilahirkan dan dihari itu pula aku diutus sebagai Rasul atau turun kepadaku wahyu".
(lihat sahih Muslim 1/368, Ahmad 5/299, Al-Baihaqi 4/286-300, Al-Hakim 2/602.)


Hari Senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu jatuh pada tanggal tujuh, empat belas, dua puluh satu dan dua puluh delapan. 


Beberapa riwayat yang sahih telah menunjukkan bahwa Lailatul Qadr tidak jatuh kecuali malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan jadi jika kami membandingkan firman Allah, 

إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami menurunkan (Al-Quran) pada kemuliaan/Lailatul Qadr." 
(QS. Al Qadr 97:1).


Dengan riwayat Abu Qutadah bahwa hari diutusnya beliau sebagai Rasul jatuh pada hari Senin, serta berdasarkan penelitian ilmiah tentang jatuhnya hari Senin di bulan Ramadhan pada tahun itu.
Maka jelaslah bagi kami bahwa diutusnya beliau pada tanggal dua puluh satu di bulan Ramadhan."


Aisyah meriwayatkan,
"Awal permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullahﷺ ialah berupa mimpi yang hakiki di dalam tidur beliau. Beliau tidak melihat sesuatu di dalam mimpinya melainkan ada sesuatu yang datang menyerupai fajar subuh. Kemudian beliau paling suka mengasingkan diri. Beliau menyendiri di gua Hira, dan beribadah di sana pada malam-malam hari sebelum pulang ke keluarga dan mengambil bekal. Beliau menemui Khadijah dan mengambil bekal seperti biasanya hingga datang kebenaran tatkala beliau sedang berada di gua Hira. Malaikat mendatangi beliau seraya berkata, "Bacalah!"
Berikut ini penuturan beliau, "Aku tidak bisa membaca".
Dia (Malaikat Jibril) memegangku dan memelukku hingga aku merasa sesak. Kemudian melepaskanku seraya berkata lagi, "Bacalah!"
Aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca."
Dia memegangiku dan merangkulku hingga ketiga kalinya sampai aku merasa sesak, kemudian melepaskanku lalu berkata:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1 

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan

2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3

Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena)

عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5

Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya
(Surah Al ‘Alaq: 1-5)

Rasulullahﷺ mengulang bacaan ini dengan hati yang bergetar, lalu pulang menemui Khadijah binti Khuwailid seraya bersabda,
"Selimutilah aku, Selimutilah aku..".
Maka beliau diselimuti hingga badan beliau tidak lagi menggigil layaknya terkena demam.
"Apalagi yang terjadi padaku?", Beliau bertanya kepada Khadijah.
Maka dia memberitahukan apa yang baru saja terjadi,
beliau bersabda, "Aku khawatir terhadap keadaan diriku sendiri."

Khadijah berkata, "Tidak, demi Allah, Allah sama sekali tidak akan menghinakanmu, karena engkau suka menyambung tali persaudaraan, ikut membawakan beban orang lain, memberi makan orang yang miskin, menjamu tamu dan menolong orang yang menegakkan kebenaran."

Selanjutnya Khadijah membawa beliau pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Nasrani semasa Jahiliyah. Dia menulis buku dalam bahasa Ibrani dan juga menulis Injil dalam bahasa Ibrani. Dia sudah tua dan buta. 

Khadijah berkata kepada Waraqah,
"Wahai sepupuku, dengarkanlah kisah dari saudaramu (Rasulullahﷺ)".

Waraqah bertanya kepada beliau, 
"Apa yang pernah engkau lihat wahai saudaraku?".

Rasulullahﷺ mengabarkan apa saja yang telah dilihatnya, akhirnya Waraqah berkata,
"Ini adalah Namus yang diturunkan Allah kepada Musa. Andaikan saja aku masih muda pada masa itu. Andaikan saja aku masih hidup tatkala kaummu mengusirmu."

"Benarkah mereka akan mengusirku?", Tanya Rasulullahﷺ

"Benar, tak seorang pun pernah membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup pada masa mu nanti, tentu aku akan membantumu secara sungguh-sungguh."

Waraqah meninggal dunia pada saat-saat turun wahyu.

Ath-Thabari dan Ibnu Hisyam meriwayatkan yang intinya menjelaskan bahwa Rasulullahﷺ pergi meninggalkan gua Hira setelah mendapatkan wahyu, lalu menemui istri beliau dan pulang ke Makkah. Adapun riwayat Ath-Thabari menyebutkan sekilas tentang sebab keluarnya beliau dari gua Hira'. Inilah riwayatnya,

Rasulullahﷺ bersabda,
"Tidak ada makhluk Allah yang paling ku benci selain dari penyair atau orang yang tidak waras. Aku tidak kuat untuk memandang keduanya."
Beliau juga bersabda,
"Yang paling ingin kujahui adalah penyair atau orang tidak waras, sebab orang-orang Quraisy senantiasa berbicara tentang diriku dengan syair itu. Rasanya ingin aku mendaki gunung yang tinggi, lalu menerjunkan diri dari sana agar aku mati saja, sehingga aku bisa istirahat dengan tenang."

Beliau bersabda lagi,
"Maka aku pun pergi dan hendak melakukan hal itu. Namun di tengah gunung, tiba-tiba ku dengar suara yang datangnya dari langit berkata, "Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah dan aku Jibril." 
Aku mengongakkan kepala keatas langit, yang ternyata disana ada Jibril dalam rupa seorang laki-laki dengan wajah yang berseri, kedua telapak kakinya menginjak ufuk langit, seraya berkata, "Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah dan aku Jibril." 
Aku berdiam diri sambil memandangnya, bingung apa yang hendak ku kerjakan, tidak berani melangkah maju ataupun mundur. Aku memalingkan wajah dari arah yang ditempati Jibril di ufuk langit. Tetapi setiap kali aku memandang arah langit yang lain, disana tetap ada Jibril seperti yang ku lihat. 
Hingga akhirnya Khadijah mengirim beberapa orang untuk mencariku. Bahkan mereka sampai ke Makkah dan kembali lagi menemui Khadijah tanpa hasil, padahal aku tetap berdiri seperti semula di tempatku berdiri. Kemudian Jibril pergi dariku dan aku pun pulang kembali menemui keluargaku. Sesampainya di rumah aku langsung duduk di atas paha Khadijah sambil bersandar kepadanya.
Kemudian aku memberitahukan apa yang telah kulihat. Dia berkata,"Bergembiralah wahai anak pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi diri Khadijah yang ada di Tangan-Nya, aku benar-benar sangat berharap engkau menjadi nabi umat ini."

Setelah itu Khadijah beranjak pergi untuk menemui Waraqah dan mengabarkan kepadanya. Waraqah berkata,

"Maha suci, Maha suci. Demi diri Waraqah yang ada di Tangan-Nya, 
Namus yang besar yang pernah datang kepada Musa kini telah datang kepadanya. Dia adalah benar-benar nabi umat ini. Katakanlah kepadanya, agar dia berteguh hati."


Khadijah pulang lalu mengabarkan apa yang di katakan Waraqah kepadanya. Tatkala Rasulullahﷺ meninggalkan istrinya dan pergi ke Makkah beliau bertemu Waraqah. Setelah mendengar penuturan langsung dari beliau, Waraqah berkata, 
"Demi diriku yang ada di Tangan-Nya, engkau adalah benar-benar nabi umat ini. Nama yang besar telah datang kepadamu, seperti yang pernah datang kepada Musa."

(Diringkas dari Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/238.)
(Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, hal.62-66.)

2018-01-15

Kisah Renovasi Ka'bah dan Nabi Muhammadﷺ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas sebagian kecil dari kisah mengenai renovasi Ka'bah di jaman Rasullulahﷺ yang kini semakin bertambah banyak orang yang datang untuk melakukan ibadah haji di sana, dan saya berdoa untuk para pembaca di blog ini agar kita semua diberikan kesempatan untuk dapat datang ke Baitullah yang merupakan pusat/kiblat selurut umat Islam di seluruh dunia memenuhi kewajiban rukun Islam yang ke-5. آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

Dari kutipan "Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri hal.57."
Ka'bah pada saat itu berupa susunan batu-batu yang lebih tinggi dari badan manusia. Tepatnya sembilan hasta yang dibangun sejak masa Is'mailعليه السلام tanpa ada atapnya, sehingga banyak pencuri yang suka mengambil barang-barang berharga yang tersimpan didalamnya.
Dengan kondisi seperti itu, bangunan Ka'bah semakin rapuh dan dindingnya pun sudah pecah-pecah.

Dengan keadaan Ka'bah yang seperti inilah maka orang-orang Quraisy sepakat untuk merenovasi Ka'bah, pada saat itu Muhammadﷺ berusia tiga puluh lima tahun. 
Dan lima tahun sebelum masa kenabian.

Makkah dilanda banjir besar hingga meluap ke Baitul-Haram, sehingga sewaktu-waktu bisa membuat Ka'bah runtuh.

Sementara itu, orang-orang Quraisy dihinggapi perasaan bimbang antara merenovasi Ka'bah dan membiarkan seperti adanya. Namun akhirnya mereka sepakat untuk tidak memasukkan bahan-bahan bangunan, kecuali yang baik-baik.

Mereka tidak menerima masukan upah dari pelacur, jual-beli dengan sistem riba dan rampasan terhadap harta orang lain. Sekalipun begitu mereka merasa sangat takut untuk merobohkannya.

Akhirnya Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi mengawali perobohan bangunan Ka'bah, lalu diikuti semua orang, setelah tahu tidak ada sesuatu apapun yang menimpa Al-Walid. Mereka terus bekerja merobohkan setiap bangunan Ka'bah hingga sampai rukun Ibrahim. Setelah itu mereka siap membangunnya kembali.

Mereka membagi sudut-sudut Ka'bah dan mengkhususkan setiap Kabilah dengan bagiannya sendiri-sendiri. Setiap Kabilah mengumpulkan batu-batu yang baik dan mulai membangun.

Yang bertugas menangani urusan pembangunan Ka'bah ini adalah seorang arsitek kebangsaan Romawi yang bernama Baqum (Pachomius).

Perselisihan saat peletakan Hajar Aswad

Renovasi bangunan Ka'bah sudah sampai pada bagian Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad ditempatnya semula.

Perselisihan ini terus berlanjut selama empat atau lima hari tanpa ada kesepakatan. Bahkan perselisihan ini semakin meruncing dan hampir saja menjurus kepada pertumpahan darah di tanah suci.

Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi tampil dan menawarkan jalan keluar dari perselisihan diantara mereka, dengan menyerahkan urusan ini kepada siapapun yang pertama kali memasuki pintu masjid (tempat sujud), dan mereka menerima cara itu.
Allah menghendaki orang yang berhak tersebut adalah Rasulullahﷺ. Tatkala mengetahui hal ini, mereka pun berbisik, "inilah Al-Amin, kami ridha kepadanya. Inilah dia Muhammad."

Setelah mereka semua berkumpul disekitar beliau dan mengabarkan apa yang harus beliau lakukan, maka Rasulullahﷺ meminta sehelai selendang, lalu beliau meletakkan Hajar Aswad tepat ditengah-tengah selendang, lalu meminta pemuka-pemuka kabilah yang berselisih itu untuk memegang ujung-ujung selendang, lalu memerintahkan mereka secara bersama-sama mengangkatnya.
Setelah mereka mendekati tempatnya, Rasulullahﷺ mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya ditempat semula.

(Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri hal.53)

Berdasarkan sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 12/192-197.

Ka'bah itu berbentuk segiempat yang ketinggiannya mencapai 15m, panjang sisinya di tempat Hajar Aswad dan sebaliknya adalah 10 × 10 m, Hajar Aswad itu sendiri diletakkan dengan ketinggian 1,5m dari permukaan pelataran tempat tawaf. Sisi yang ada pintunya dan sebaliknya setinggi 12m, adapun pintunya setinggi 2m dari permukaan tanah.

Di sekeliling luar Ka'bah ada pagar dari bagian bawah ruas-ruas bangunan dibagian tengahnya dengan ketinggian 1/4m dan lebarnya kira-kira 1/3m.
Pagar ini dinamakan Asy-Syadzarawan. Namun kemudian orang-orang Quraisy meninggalkannya.

Demikianlah sekilas kutipan yang saya postingkan pada kali ini untuk semua pengunjung di blog saya ini. Insya Allah, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang di rahmati Allahﷻ dan senantiasa dalam lindungannya.

آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ


وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

2018-01-14

Kisah Barokah bayi Muhammadﷺ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم




Salah satu kisah yang terdapat didalam "Sirah Nabawiyah" karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Adalah Barokah bayi Muhammadﷺ kepada Halimah binti Abu dzu'aib Bani Sa'd.


Inilah penuturan, sebagaimana dikatakan Ibnu Ishaq, bahwa Halimah pernah berkisah, suatu kali dia pergi dari negerinya bersama suami dan anaknya yang masih kecil dan disusuinya, bersama beberapa wanita dari Bani Sa'd.


Tujuan mereka adalah mencari anak yang bisa disusui. Dia berkata
"Itu terjadi pada masa paceklik, tak banyak kekayaan kami yang tersisa". Aku pergi sambil naik keledai betina berwarna putih milik kami dan seekor unta yang sudah tua dan tidak bisa diambil susunya lagi.
Sepanjang jalan kami tidak pernah tidur karena harus meninabobokan bayi kami yang terus-menerus menangis karena kelaparan. Air susuku juga tidak bisa diharapkan. Sekalipun kami tetap masih bisa mengharapkan adanya uluran tangan dan jalan keluar.

Akupun pergi sambil menunggang keledai kami dan hampir tak pernah turun dari punggungnya, sehingga keledai itupun makin lemah kondisinya. 

Akhirnya kami serombongan tiba di Makkah dan kami langsung mencari bayi yang bisa kami susui.

Setiap wanita dari rombongan kami yang ditawarkan Muhammadﷺ  pasti menolaknya, setelah tahu bahwa Nabiﷺ adalah anak yatim. Tidak mengherankan, sebab memang kami mengharapkan imbalan yang cukup memadai dari bapak bayi yang kami akan susui. Kami semua berkata "Dia adalah anak yatim". Tidak ada pilihan bagi ibu dan kakek Muhammadﷺ, karena kami tidak menyukai keadaan seperti itu. Setiap wanita dari rombongan kami sudah mendapatkan bayi yang disusuinya, kecuali aku sendiri. 
Tatkala kami sudah bersiap-siap untuk kembali, aku berkata kepada suamiku, 

"Demi Allah, aku tidak ingin kembali bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi yang disusui"."Demi Allah, aku akan benar-benar mendatangi anak yatim itu dan akan membawanya"

.Maka aku pun menemui bayi itu (Muhammadﷺ), dan aku siap membawanya. Tatkala menggendongnya seakan-akan aku tidak merasa repot karena mendapat beban yang lain.

Aku segera menghampiri hewan tungganganku, dan tatkala puting susuku kusodorkan kepadanya, bayi itu bisa menyedot air susu sesukanya dan meminumnya hingga kenyang. Anak kandungku sendiri juga bisa menyedot air susunya hingga kenyang, setelah itu keduanya tertidur pulas. Padahal sebelum itu kami tak pernah tidur sepicing pun karena mengurus bayi kami. Suamiku menghampiri ontanya yang sudah tua. Ternyata air susunya menjadi penuh. Maka kami memerahnya, hingga kami bisa meminum air susu unta kami hingga kenyang.

"Demi Allah, tahukah engkau wahai Halimah, engkau telah mengambil satu jiwa yang penuh barakah", kata suamiku pada esok harinya.
"Demi Allah, aku pun berharap yang demikian itu", kataku.

Kemudian kami pun bersiap-siap pergi menunggangi keledaiku. Semua bawaan kami juga kunaikkan bersama diatas punggungnya. Demi Allah, setelah kami menempuh perjalanan sekian jauh, tentulah keledai-keledai mereka tidak akan mampu membawa beban seperti yang aku bebankan diatas punggung keledaiku, sehingga mereka berkata kepadaku, 
"Wahai putri Abu Dzu'aib, celaka engkau! Tunggulah kami! Bukankah ini keledaimu yang pernah engkau bawa bersama kita dulu?"
"Demi Allah, begitulah. Ini adalah keledaiku yang dulu," kataku."Demi Allah, keledaimu ini kini tambah perkasa," kata mereka.
Kami pun tiba di tempat tinggal kami di daerah Bani Sa'd. Aku tidak pernah melihat sepetak tanah pun yang lebih subur saat itu. Domba-domba kami datang menyongsong kami dalam keadaan kenyang dan air susunya penuh terisi. Kami senantiasa mendapatkan tambahan barakah dan kebaikan dari Allah selama dua tahun menyusui anak susuanku, lalu aku menyapihnya. Dia tumbuh dengan baik, tidak seperti bayi-bayi yang lain. Bahkan sebelum usia dua tahun dia sudah tumbuh pesat.

Kemudian kami membawa kembali kepada ibunya, meskipun kami masih berharap agar anak itu tetap berada di tengah-tengah kami, karena kami bisa merasakan barakahnya.
Maka kami menyampaikan niat ini kepada ibunya. Aku berkata, 
"Andaikan saja engkau sudi membiarkan anak ini tetap bersama kami hingga besar. Sebab aku khawatir dia terserang penyakit yang bisa menjalar di Makkah." 
Kami terus merayu ibunya agar dia berkenan mengembalikan anak itu tinggal bersama kami.

Peristiwa pembelahan dada Muhammadﷺ

Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa Muhammadﷺ didatangi Jibril yang pada saat itu sedang bermain-main dengan beberapa anak kecil lainnya. 


Lalu Jibril memegang Muhammadﷺ dan menelentangkannya, lalu membelah dada lalu mengeluarkan hati dan segumpal darah dari dada Muhammadﷺ, seraya berkata, 


"Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu." 


Lalu Jibril mencucinya disebuah baskom dari emas dengan menggunakan air Zamzam. Kemudian menata dan memasukkannya ketempat semula. 


Anak-anak kecil lainnya berlarian mencari ibu susunya dan berkata "Muhammad telah dibunuh." Mereka pun datang menghampiri beliau yang wajahnya semakin berseri.


Peristiwa ini terjadi di saat Muhammadﷺ berusia empat atau lima tahun pada waktu beliau masih tinggal di tengah Bani Sa'd dalam asuhan Halimah binti Abu Dzu'aib.

(begitulah menurut pendapat mayoritas pakar sejarah. 
Menurut riwayat Ibnu Ishaq peristiwa itu terjadi pada usia tiga tahun. 
Lihat Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/164-165).

(Sirah Nabawiyah, Sheikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri)

Peristiwa penggalian sumur Zamzam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Penanganan air minum dan makanan sepeninggal Hasyim ada ditangan saudaranya, Al-Muththalib bin Abdul Manaf, seorang laki-laki yang terpandang, dipatuhi dan dihormati ditengah kaumnya, yang dijuluki orang-orang Quraisy dengan sebutan "Al-Fayyadh"(sang dermawan).

Syaiban(Abdul Muthalib) menetap dirumah Al-Muththalib hingga dewasa. Tak lama kemudian Al-Muththalib meninggal dunia di Yaman. Maka Abdul Muthalib menggantikan kedudukannya, seperti yang dilakukan oleh bapak-bapaknya terdahulu.
Namun Naufal (paman dari Abdul Muthalib), mengadakan perjanjian persahabatan dengan Bani Abdi Syam bin Abdi Manaf untuk menghadapi Bani Hasyim. Bani khuza'ah yang melihat dukungan Bani An-Najjar terhadap Abdul Muthalib, maka mereka berkata "Kami juga melahirkannya sebagaimana kalian telah melahirkannya. Oleh karena itu kami juga berhak mendukungnya". Hal ini bisa dimaklumi, karena ibu Abdi Manaf berasal dari keturunan mereka.

Maka mereka memasuki Darun Nadwah dan mengikat perjanjian dengan Bani Hasyim untuk menghadapi Bani Abdi Syam yang sudah bersekutu dengan Naufal. Perjanjian persahabatan inilah yang menjadi sebab penaklukkan Makkah.

Peristiwa penggalian sumur Zamzam

Pada awal mulanya Abdul Muthalib bermimpi diminta untuk menggali sumur zamzam dan mencari tempatnya. Maka diapun melaksanakan perintah itu, dan ternyata didalamnya dia mendapatkan berbagai benda berharga yang dahulu pernah dipendam orang-orang Jurhum tatkala sedang berkuasa.

Benda-benda itu berupa beberapa buah pedang, baju perang, dan dua pangkal pelana, yang semuanya terbuat dari emas. Kemudian dia (Abdul Muthalib) menjadikan pedang-pedang itu sebagai pintu Ka'bah dan memasang dua pangkal pelana di pintu itu.

Tatkala sumur zamzam itu ditemukan kembali, maka orang-orang Quraisy ingin ikut campur tangan menanganinya. Mereka berkata "Kami ingin bersekutu".
"Tidak bisa, ini adalah urusan yang secara khusus ada di tanganku", kata Abdul Muthalib. Kecuali setelah menyerahkan keputusan kepada seorang dukun wanita dari Bani Sa'd. Mereka tidak akan pulang kecuali setelah Allah memberinya sepuluh anak laki-laki, dan setelah mereka besar dia tidak lagi mempunyai anak, maka dia akan mengorbankan (menyembelih) salah seorang diantara mereka di hadapan Ka'bah.

Abdul Muthalib memiliki sepuluh anak laki-laki, :
Al-Harits, Az-Zubair, Abu Thalib, Abdullah, Hamzah, Abu lahb, Al-Ghaidaq, Al Muqawwim, Shaffar, dan Al-Abbas.
Ada yang berpendapat anaknya ada sebelas, yaitu ditambah Qatsam.
Ada pula yang berpendapat anaknya ada tiga belas, yaitu Abdul Ka'bah dan Hajjla.
Ada pula yang berpendapat Abdul Ka'bah adalah Al-Muqawwim, dan Hajjla adalah Al-Ghaidaq, sementara itu tak ada seorangpun diantara anak-anaknya yang bernama Qatsam.

Sedangkan anak perempuannya ada enam orang :
Ummul-Hakim atau Al-Baidha, Barrah, Atikah, Shafiyyah, Arwa dan Umaimah.

(Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri)

Kisah Abdul Muthalib bin Hasyim

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم



Salma binti Amru bersama keluarganya di Madinah mengandung anak dari Hasyim bin Abdu Manaf, lalu Hasyim melanjutkan perjalanannya ke Syam. Namun Hasyim meninggal dunia saat menginjakkan kakinya di Palestina.
Sementara Salma melahirkan Abdul Muthalib pada tahun 497M, dengan nama Syaibah, karena ada rambut putih (uban) di kepalanya.
Adapun pengasuh selanjutnya diserahkan kepada bapak Salma di Yastrib. Sementara tak seorang pun dari keluarga Hasyim di Makkah yang merasakan kehadiran Abdul Muthalib.
Hasyim mempunyai empat putra :

  1. Asad,
  2. Abu Shaifi,
  3. Nadhlah dan
  4. Abdul Muthalib.

Serta lima orang putri :

  1. Asy-Syifa,
  2. Khalidah,
  3. Dha'ifah,
  4. Ruqayyah dan
  5. Jannah.

(Surah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/2-4;
Talqihu Fuhumi Ahlil-Atsar, hal.6;
Khulashatus-Sair,
Ath-Thabari, hal.6;
Rahmah Lil'-alamin, 2/8.
Ada perbedaan dalam menyebutkan nama-nama ini dan ada pula sebagian yang tidak disebutkan.)

Abdul Muthalib

Sepeninggalnya Hasyim, penanganan air minum dan makanan ada di tangan saudaranya Al-Muththalib bin Abdu Manaf. Seorang laki-laki yang terpandang, dipatuhi dan terhormat ditengah kaumnya, yang dijuluki orang-orang Quraisy dengan sebutan Al-Fayyadh (Sang dermawan), karena dia memang seorang dermawan.

Tatkala Al-Muththalib mendengar bahwa Syaiban (Abdul Muthalib) sudah tumbuh menjadi seorang pemuda atau lebih tua lagi, maka dia segera mencarinya. Setelah keduanya saling berhadapan, kedua mata Al-Muththalib meneteskan air mata haru, lalu dia memeluknya dan bermaksud membawanya. Namun Abdul Muthalib menolak ajakan itu kecuali jika ibunya mengijinkan. Namun ibunya(Salma bin Amru) juga menolaknya.
"Sesungguhnya dia pergi ke tengah kerajaan bapaknya dan tanah suci Allah," kata Al-Muththalib mengajak.
Akhirnya ibunya pun mengijinkannya dan sesampainya di Makkah orang-orang berkata "inilah dia Abdul Muthalib". Lalu Al-Muththalib berkata"Celakalah kalian. Dia adalah anak dari saudaraku Hasyim."

Kemudian Abdul Muthalib tinggal bersama Al-Muththalib hingga dewasa, hingga Al-Muththalib meninggal dunia di Yaman. Lalu Abdul Muthalib menggantikan kedudukannya. Dia hidup ditengah kaumnya dan memimpin mereka seperti bapak-bapaknya terdahulu. Dia mendapatkan kehormatan tertinggi di kaumnya, yang tidak pernah diperoleh bapak-bapaknya.

Namun Naufal (Paman Abdul Muthalib) merebut sebagian wilayah kekuasaannya yang membuat Abdul Muthalib marah. Maka dia meminta dukungan kepada beberapa pemimpin Quraisy untuk menghadapi pamannya. Namun mereka berkata, "Kami tidak ingin mencampuri urusan antara dirimu dan pamanmu." Maka dia menulis surat yang ditujukan kepada paman-paman dari pihak ibunya Bani An-Najjar, berisi beberapa bait syair yang intinya meminta pertolongan kepada mereka.

Salah seorang pamannya, Abu Sa'd bin Adi membawa delapan puluh pasukan berkuda, lalu singgah di pinggiran Makkah. Kemudian mencari Naufal yang pada saat itu sedang duduk di Hijir bersama pemuka Quraisy.

Abu Sa'd langsung menghunus pedang dan berkata,
"Demi penguasa Ka'bah, jika engkau tidak mengembalikan wilayah kekuasaan anak saudariku, maka aku akan membebaskan pedang ini ke lehermu."
Lalu Naufal mengembalikannya dipersaksikan para pemuka Quraisy.

Di "antara peristiwa penting yang terjadi di Baitul-Haram semasa Abdul Muthalib" adalah 







Abdul Muthalib memiliki sepuluh anak laki-laki, :


  1. Al-Harits, 
  2. Az-Zubair, 
  3. Abu Thalib, 
  4. Abdullah, 
  5. Hamzah, 
  6. Abu lahb, 
  7. Al-Ghaidaq, 
  8. Al Muqawwim, 
  9. Shaffar, dan 
  10. Al-Abbas.

  • Ada yang berpendapat anaknya ada sebelas, yaitu ditambah Qatsam.
  • Ada pula yang berpendapat anaknya ada tiga belas, yaitu Abdul Ka'bah dan Hajjla.
  • Ada pula yang berpendapat Abdul Ka'bah adalah Al-Muqawwim, dan Hajjla adalah Al-Ghaidaq, sementara itu tak ada seorangpun diantara anak-anaknya yang bernama Qatsam.
Sedangkan anak perempuannya ada enam orang :
  1. Ummul-Hakim atau Al-Baidha,
  2. Barrah, 
  3. Atikah, 
  4. Shafiyyah, 
  5. Arwa dan 
  6. Umaimah.

2018-01-13

Peristiwa Penyerangan Pasukan Gajah Abrahah Ash-Sabbah Al-Habsi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Abrahah Ash-Sabbah Al-Habsi, gubernur yang berkuasa di Yaman dari Najasy, membangun sebuah gereja yang sangat besar di Shan'a, karena dia melihat bangsa Arab yang melaksanakan Haji di Ka'bah. 

Dia menginginkan untuk mengalihkan pusat kegiatan haji disana. Seseorang dari Bani Kinanah mendengar niat dari Abrahah ini. Maka selagi tengah malam dan dengan cara mengendap-endap, dia masuk kedalam gereja dan melumurkan kotoran ke pusat kiblatnya. 

Tentu saja Abrahah sangat murka setelah mengetahuinya, lalu dengan membawa segenap pasukan yang jumlahnya mencapai enam puluh ribu prajurit, dia menuju Ka'bah untuk menghancurkannya. 

Untuk kendaraannya dia memilih seekor gajah yang paling besar, disamping sembilan atau tiga belas ekor gajah yang lain ditengah pasukannya siap untuk menginvasi Makkah. Setibanya di Wadi Muhasshir, yaitu antara Muzdalifah dan Mina, tiba-tiba gajahnya menderum dan tak mau bangkit lagi mendekati Ka'bah kecuali hendak lari menjauhinya. 

Tatkala keadaan mereka seperti itulah Allah mengirimkan burung-burung Ababil diatas mereka, lalu menjatuhkan batu-batu dari tanah yang panas, hingga mereka tak ubahnya daun-daun yang dimakan ulat. 

Burung-burung itu menyerupai Khathathif dan Balsan. Setiap burung membawa lima batu sebesar kacang,  tiga di paruhnya dan dua di kakinya. Batu-batu itu tidak menimpa salah seorang diantara mereka, melainkan sendi-sendi tulangnya. Hingga terlepas dan diapun mati. Maka merekapun berlarian tak tentu arah menyelamatkan diri masingmasing, sebagian bertabrakan dengan sebagian yang lainnya, ada pula yang jatuh terinjak-injak hingga akhirnya mereka semua mati. 

Begitu pula Abrahah yang sendi-sendi tulangnya terlepas satu persatu dan tewas saat tiba di Shan'a dengan dadanya yang terbelah hingga terlihat jantungnya. Akhirnya orang-orang Quraisy yang takut dengan pasukan Abrahah  dan melarikan diri keatas gunung dapat kembali kerumahnya dengan aman.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram, 50 atau 55 tahun sebelum kelahiran nabi Muhammad saw, atau tepatnya akhir bulan Februari atau awal bulan Maret 571 M. 

Dan peristiwa ini merupakan prolog yang dibukakan Allah SWT untuk Nabi dan Bait-Nya, seperti peristiwa "Bukhtanashar" tahun 587 SM dan "orang-orang Romawi" tahun 70 M. Namun Ka'bah tidak pernah dapat dikuasai Nasrani (yang pada saat itu mereka disebut orang-orang Muslim), sekalipun penduduknya orang-orang musyrik.

(Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri).

Featured Post

Kisah Perjuangan Rasululahﷺ Dalam Berdakwah